Home Budaya Nilai Gotong Royong Tertanam Sejak Dahulu di Badung

Nilai Gotong Royong Tertanam Sejak Dahulu di Badung

98
Direktur Pembudayaan BPIP Irene Camelyn saat diskusi bersama dengan Bendesa Adat Kedonganan di Kedonganan. (PB/ist)
Direktur Pembudayaan BPIP Irene Camelyn saat diskusi bersama dengan Bendesa Adat Kedonganan di Kedonganan. (PB/ist)
- Advertisement -

Mangupura, puranabali.com – Nilai-nilai gotong royong merupakan milik rakyat dan sudah lama tertanam sejak dahulu di masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Badung. Misalnya di masing-masing desa dan kelurahan kami punya ambulance dan perangkatnya, siapapun yang sakit dan membutuhkan langsung dibawa ke rumah sakit, tanpa bertanya berapa biayanya.

BACA JUGA  Pandemi, Pujawali di Pura Petitenget akan Digelar Sehari

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Kesbangpol Badung I Nyoman Suendi, dalam diskusi bersama pembentukan pola pembudayaan gotong royong bersama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Badung di Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Rabu (22/7).

BACA JUGA  Malukat di Pura Beji Taman Sari Harus Telanjang Bulat, Dipercaya Hilangkan Gatal

Menurutnya, pemerintah setempat juga mendistribusikan mobil operasional keamanan di desa dan kelurahan yang dilaksanakan oleh pecalang sehingga tingkat kriminalitas sangat rendah di Kabupaten Badung. “Dari sektor pendidikan, Pemkab Badung juga memfasilitasi sarana dan prasarana seperti pemberian laptop dan membangun jaringan internetnya,” katanya.

BACA JUGA  Wakapolres Bangli Pantau Pelaksanaan “Sipeng” di Banjar Adat Pekuwon

Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha menerangkan keberhasilan pihaknya memotivasi kelompok masyarakat di pesisir Kedonganan untuk membangun perekonomian secara mandiri. Sistem ekonomi yang diterapkan pelaku ekonomi mikro di pesisir Kedonganan adalah sistem kolegial atau secara gotong royong, sehingga hasilnya ekonomi mikro yang dijalankan oleh kelompok usaha di pesisir tumbuh dan maju.

BACA JUGA  Parade Ogoh-ogoh di Badung Tunggu Arahan Diskes dan PHDI

“Musibah Covid-19 yang melanda dunia termasuk wilayah Badung mengakibatkan sektor wisata menjadi lesu, akibatnya sumber pendapatan masyarakat pesisir juga mengalami penurunan namun pihaknya dan usaha mikro di pesisir tidak menyerah dengan keadaan. Dengan semangat gotong royong tetap eksis dan bangkit sehingga kegiatan ekonomi di pesisir Kedonganan tetap tumbuh,” terangnya.

BACA JUGA  Satlantas Polres Bangli Sambangi Sekolah, Sosialisasikan Protokol Kesehatan

Dikatakan, Indonesia ini sangat kaya, hanya saya umat manusia kurang bersyukur dan selalu mengedepankan pertengkaran dan perbedaan, sehingga tidak pernah maju. “Kita boleh berbeda tapi harus harmonis, contohnya gamelan jika seluruh perbedaan bunyi masing-masing alat musik dibunyikan secara harmonis menghasilkan irama yang indah. Kita boleh berbeda tapi harus tetap harmonis,” tegasnya. (PB21)

- Advertisement -