Home News Pembelajaran Tatap Muka Harus Utamakan Keselamatan Siswa

Pembelajaran Tatap Muka Harus Utamakan Keselamatan Siswa

9
Prof Wiku Adisasmito. (PB/ist)
Prof Wiku Adisasmito. (PB/ist)
- Advertisement -

Jakarta, puranabali.com – Pemerintah pusat telah mengizinkan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 1 Januari 2021. Namun, pembukaan kembali sekolah harus mengutamakan keselamatan siswa yang masuk rentang usia anak sekolah. Satgas Penanganan Covid-19 pun telah berkoordinasi dengan kementerian terkait, untuk kesiapannya.

BACA JUGA  Polres Klungkung Gelar Apel Pasukan Operasi Lilin 2020

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku mengatakan PTM akan dilaksanakan jika persyaratan-persyaratan yang ditentukan sudah terpenuhi. Dan merupakan kewenangan Pemda, kanwil atau kantor Kementerian Agama dan persetujuan orang tua. Hal ini sesuai Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 November 2020.

BACA JUGA  Dari 1.879 Warga Di-rapid Test, 396 Jalani Uji Swab dan 126 Negatif Covid-19

“Namun, kesiapan pembukaan pembelajaran tatap muka ini, juga perlu memperhatikan data perkembangan kasus Covid-19, khususnya pada usia anak sekolah,” jelas Wiku memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (7/1) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

BACA JUGA  Hari Ini, Badung Catat 34 Warga Terpapar Covid-19

Karena terdapat kekhawatiran terhadap anak-anak rentang usia sekolah yang dapat tertular Covid-19. Secara persentasenya, rentang usia anak sekolah menyumbang sebesar 8,87% dari total kasus nasional. Atau usia sekolah menyumbang 59.776 kasus dari total kasus kumulatif.

BACA JUGA  Bandara Ngurah Rai Hentikan Sementara Layanan Penerbangan

Dari total kasus tersebut, anak pada usia setara pendidikan SD yaitu 7 – 12 tahun, menyumbang angka kasus terbanyak yaitu 17.815 kasus (29,8%). Diikuti usia setara SMA yaitu 16 – 18 tahun di angka 13.854 kasus (23,17%), usia setara SMP yaitu 13 – 15 tahun sebanyak 11.239 kasus (18,8%), usia setara TK yaitu 3 – 6 tahun sebanyak 8.566 kasus (14,3%) dan usia PAUD yaitu 0 – 2 tahun sebanyak 8.292 kasus (13,8%).

BACA JUGA  Putri Wapres RI Tengok UMKM di Badung

“Jika kita menelaah dari trennya, kita bisa melihat adanya peningkatan kasus konfirmasi pada setiap penggolongan umur, bahkan terbesar setara TK, PAUD dan SD. Kenaikannya di atas 50 persen hanya dalam kurun waktu 1 bulan,” lanjut Wiku.

BACA JUGA  Transmisi Lokal Covid-19 Kian Mengkhawatirkan, Gubernur Koster Kembali Keluarkan Imbauan

Dari sebaran daerahnya, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan Banten konsisten menempati peringkat 10 besar daerah dengan konfirmasi tertinggi pada rentang usia sekolah. Dimana DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah konsisten menempati peringkat 4 teratas pada seluruh golongan umur rentang usia sekolah.

BACA JUGA  Kwarda Bali Terima 300 Paket Bahan Pokok, Masyarakat Dipersilakan Daftar Online

Dan secara nasional juga, terdapat 3 provinsi teratas dengan penyumbang kematian tertinggi rentang usia sekolah. Pada rentang usia PAUD, terdapat di Sulawesi Utara (6,78%), Nusa Tenggara Barat (4,72%) dan Nusa Tenggara Timur (4,35%). Rentang usia TK terdapat di Jawa Timur (4,6%), Riau (0,73%) dan Kepulauan Riau (0,72%).

BACA JUGA  Soal Skema New Normal, Bali Belum Tentukan Sikap

Rentang usia SD terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (1,449), dan Sulawesi Tengah (1,47%). Rentang usia SMP terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (2,08%) dan Nusa Tenggara Barat (0,85%). Rentang usia SMA terdapat di Jawa Timur (4,62%), Gorontalo (1,64%) dan Aceh (1,53%).

BACA JUGA  Banser Bangli Imbau Warga Muslim Tunda Mudik Tahun Ini

“Data ini disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk transparansi Satgas kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Data ini selayaknya dijadikan dasar pertimbangan sebelum mengeluarkan izin pembelajaran tatap muka. Daerah yang merasa kasus positifnya tinggi, diharapkan fokus terlebih dahulu pada penangan pandemi,” tegas Wiku.

BACA JUGA  Di Sungai Yeh Penet Penarungan, Pemkab Badung Tebar 10 Ribu Benih Ikan Nila

Namun, apabila ada daerah yang merasa siap membuat pembelajaran tatap muka, harus terlebih dahulu paham komitmen yang dibutuhkan untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan serta mempunyai strategi yang jelas. Dibutuhkan peninjauan yang mendalam dan tidak hanya kesiapan dan kesepakatan pihak terkait. (PB11)

- Advertisement -